Kamis, 05 Januari 2012

Analisis Pengaruh Kebijakan Kesehatan Kuba terhadap Status Kesehatan Masyarakat Kuba

Oleh: Harpiana Rahman



Kebijakan Kesehatan Kuba

Embargo ekonomi  Amerika Serikat terhadap Kuba adalah salah satu factor utama yang menyebabkan Kuba menjadi negara mandiri. Pembangunan pendidikan, pertahanan Negara, bahkan ekonomi diselenggrakan secara otonom tanpa campur tangan dari bangsa lain. Termasuk masalah kesehatan. Meskipun secara financial, system perekonomian Kuba terpuruk, namun menurut data WHO, Kuba telah berhasil mewujudkan pembanguan kesehatan bagi semua warganya. Bahkan status kesehatan Kuba dapat disejajarkan dengan Kanada ataupun dengan Amerika Serikat.

Proses  pengembangan pembangunan kesehatan Kuba memberikan prioritas pada pembangunan sumber daya manusia. Secara umum system kesehatan di Kuba seperti halnya di negara lain, menempel pada system pemerintahan Negara yang bersangkutan.[1] Artinya system kesehtan terbagi-bagi menurut wilayahnya. Ada system di tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota yang bertanggung jawab dari pelayanan kesehtan primer hingga tersier.

Pelayanan kesehatan di wilayah-wilayah Kuba sama.  Kebijakan kesehatan Kuba yaitu pemberian pelayanan kesehatan yang maksimal dapat terlihat dalam pelayanan primer. Pelayanan kesehatan dimulai dari pelayanan primer(primary  health care). Layanan kesehatan primer di Kuba setingkat dengan pelayanan pertama di Indonesia yaitu dipuskesmas.  Hanya saja, sebelum masuk ke pelayanan primer atau puskesmas, Kuba membuat beberapa tahapan sebelum di rujuk ke puskesmas. Layanan kesehatan primer di Kuba dimulai dengan menempatkan seorang doktet  keluarga yang melyani 100-150 keluarga. Jumlah ini sebanding dengan 500-750 warga yang mencakup satu rukun tetasngga di Indonesia.

Dokter keluarga ini bertugas mencatat semua keluhan di masyarakat Kuba. Pencataan status kesehatan dilakukan dengan door to door. Dalam artain, dokter yang mendatangai rumah warga setiap dua belas hari sekali.  Dokter-dokter yang melakukan pencatatan kesehatan warga juga melakukan pendidikan kesehatan pada warga. Misalnya melakukan promosi kesehatan.  Dokter-dokter yang ditunjuk sebagai dokter keluarga adalah dokter yang telah melakukan pendidikan selama tiga atau empat tahun. Di Indonesia, dokter tersebut adalah dokter koas yang setelah menjalani pendidikan di universitas melanjutkan studi praktik di rumah sakit.  Berbeda di Kuba, sebelum dokter masuk rumah sakit, dokter di Kuba mesti mengabdi pada masyarakat selama kurang lebih dua tahun, seteleh itu masuk dalam dokterr puskesmas, dan terakhir barulah menjadi dokter rumah sakit. Adanya pendistribusuian tenaga kesehatan di Kuba, memudaahkan warga Kuba untuk  mengakses pelayanaan kesehatan.  Tak hanya bagi warganya, pemerintah Kuba juga menyediakan fasilitas untuk dokter muda yang melakukan dignosa di warganya.  Setelah melakukan diagnosa. Dokter keluarga melakukan praktik di sebuah kantor dokter keluarga yang umumnya berbentuk sebuah rumah berlantai dua: lantai pertama adalah klinik tempat dokter keluarga berpraktikk, lantai duanya adalah  rumah tinggal dokter bersama keluarganya, dan pada bagian belakang atau sampingnya dipakai sebagai rumah tinggal para perawat. Saat ini Kuba mempekerjakan sekitar 15.000 lebih doketer keluarga yang berpraktik di seluruh negeri kuba.  Dan untuk membina dan menjaga kualitas doketr  keluarga , maka pada setiap dokter keluarga di tempatkan sebuah satuan tugas dokter keluarga.  Satuan tugas ini terdiri  atas 3 dokter spesialis yaitu spesialis penyakit dalam, spesialis kebidanan  dan kandunagn, serta seorang pekerja social masyarakat.  Fungsi puskesmas di Kuba adalah untuk promosi kesehetan, pencegahan penyakit, pengobatan penyakit, rehabilitasi. Serta pertolongan kedaruratan. Pasien di puskesmas di tanggung oleh pemerintah kabupaten. Jika pihak puskesmas tak bisa menangani, rujukan akan ke rumah sakit yang berfasilitas nasionl. Pasien di rumah sakit di tanggung oleh pemerintah provinsi. Dan jika masih belum bisa tertangani, maka pihak rumah sakit akan merujuknya ke rumah sakit yang betaraf lebih, yang ditanggung oleh departemen kesehataan. Seluruh biaya kesehatan ditanggung oleh pihak pemerintah.

Selain kebijakan kesehatn lebih ditekankan pada petugas kesehatan, pemerintah Kuba juga memberlakukan beberapa peraturan untuk menciptakan dan memperkenalan gaya hidup sehat. Gaya hidup sehat sedini mungkin di ajarkan pada anak-anak di sekolah. Dan untuk mengurangi angka kematian akibat rokok, pemerintah mengeluarkan kebijakan larangan menjual rokok di jarak 100 yard dari sekolah serta larangan menjual rokok pada anak usia di bawah 16 tahun.

Sistem kesehatan yang diterapkan Kuba jelas sangat mempengaruhi status kesehatan, tidak salah jika status kesehatan Kuba tinggi di banding Negara lain. Sebab metode yang digunakan adalah metode partisipan. Dimana petugas kesehatanlah yang mengunjungi warga ke rumahnya.


Interpretasi Kebijakan Kesehatan Kuba

Kondisi kesehatan Kuba yang demikian majunya, di dukung oleh system pemerintahan Kuba yang independen terhadap Negara lain. Minimnya investasi swasta dalam pembangunan Negara , khususnya bidang kesehatan memudahkan pemerintahan Kuba untuk mengatur sendiri kebijakan kesehatannya. Bukan hanya itu, hingga saat ini Kuba di kenal dengan system pemerintahan Sosialis. Dimana perangkat atau aset Negara dikuasai sepenuhnya oleh pemerintahan. Tidak hanya itu, kemajuan KUba dalam bidang kesehatan juga di dukung banyaknmya lulusan dokter siap pakai di Kuba. Bahkan, jika di bandingkan dengan jumlah doketr Negara lain, Kuba menduduki urutan pertama.

Program promosi kesehatan di Kuba, jauh lebih efektif jika di banding dengan Indonedsia. Ini terlihat, gaya hidup masyarakat Kuba yang telah mengaplikasikan perilaku hidup bersih. Strategi promosi kesehatan yang dilakukan adalah penyuluhan personal. Yaitu penyuluhan dilakukan dengan mendatangi langsung rumah-rumah warga. Metode ini tentu memiliki respon yang berbeda disbanding jika warga yang mendatangi tempat penyuluhan. Pengontrolan ini masuk dalam intensifitas pelayanan kesehtan primer. Pengontrolan dilakukan setiap 12 hari sekali. Kebikjkan ini jelas sangat visioner untyuk mewujudkan hidup sehat masyarakat di Kuba.


Analisis Kebijakan Kesehatan terhadap Perilaku Hidup Masyarakat

Perbedaan antara system kesehatan yang berjalan di Indonesia dengan system kesehatan yang berjalan di Kuba adalah campur tangan swasta. System pemerintah Kuba adalah sosialis. Dimana semua kendali di pegang oleh pemerintah. Pada system kesehatan sendiri, kuba menganut socialist health system yaitu intervensi  terhadap pasar sangat ketat dengan tujuan meminalmalkan sector swasta tumbuh dan membentuk system  kesehatan yang sentralistik.  Jika di Indonesi anggaraan untuk keshetaan hanya mencapai 6 %, di Kuba berani mengeluarkan biaya kesehatan sebesar 10 %. Sebenarnya keberhasilan Kuba terhadap status kesehatan, juga didukung dengan sistem pendidikan yang berjalan.. Kuba menerapkan pendidikan gratis untuk seluruh warganya hingga S3. Tidak salah jika Kuba adalah negara dengan jumlah dokter terbanyak.

Kuba adalah sebuah negara yang unik dengan sistem kesehatan yang hampir bebas dari bantuan negara barat. Mereka mendidik sendiri tenaga-tenaga kesehatannya dan memproduksi 85% obat yang mereka perlukan. Soal kualitas tenaga kesehatan mereka tidak perlu diragukan lagi.[2]

Adanya system dokter yang mulai mendisgnosa ke warga dengan cara mengunjungi langsung warganya, merupakan strategi yang sangat efektif utnuk menciptakan perilaku sehat dan pencegahan penyakit. Kebiiakan dalam bidang kesehtan yang diterapkan oleh Kuba mempermudah setiap warga untnk mengaksesnya. Apalagi Kuba meniadakan pembiayaan kesehatan.  Upaya promosi kesehtan yng diterapkan oleh Kuba, terbilang cukup berhasil.  Sebab warga berperan sebagai partisipan. Dibentuknya dokter keluarga dan rumah praktik dokter keluarga untuk warga dalam bentuk keseriusan pemerintahan Kuba untuk memajukan kesehatan warganya. System kerja puskesmas yang diterapkan di Kuba setingkat dengan pelayanan rumah sakit di Indonesia. bahkan rumah sakit di Kuba, ditiadakan kelas-kelas. 


Pelayanan sama untuk semua orang

Kebijakan kesehatan Kuba jelas sangat mepengaruhi perilaku warga kuba. Sebab kedudukan antara warga dan petugas kesehatan di samakan. Walhasil, status kesehtan jelas terpantau oleh petugas kesehtan.

Masyarakat yang sehat merupakan prioritas pemerintah, dan ini telah tercermin dalam program mereka baru-baru ini. Walaupun budaya cerutu sudah ada sejak abad kelima, pada bulan Februari 2005, pemerintah Kuba memberlakukan larangan merokok di restoran-restoran. Ini benar-benar mengesankan karena industri tembakau dan cerutu menghasilkan pendapatan yang sangat besar bagi negara tersebut. Peraturan baru itu juga melarang penjualan rokok di toko-toko yang berjarak kurang dari 100 yard dari sekolah-sekolah dan melarang penjualan rokok kepada anak-anak di bawah usia 16 tahun.

Penerapaan kebijkan kesehatan yang gratis hingga pada pelayanan tersier jelas sangat menguntungkan warga Kuba. Ini ditunjang adanya sikap daari pemerintaah untuk meniadakan pihak swasta campur tangun dalam sistem kesehatan. Embargo ekonomi yang dilakukan oleh amerika serikat terhadap Kuba jelas tak mempegaruhi Kuba secara signifikan. Sistem kesehatan di Kuba menjadi prioritas utama dalam menjalankan program kerja di kuba.


Aplikasi Kebijakan Kesehatan Kuba

Kuba juga telah melaksanakan prakarsa yang progresif dan inovatif yang sekarang dijadikan sebagai contoh bagi negara-negara lain. Di samping pemeliharaan kesehatan dan pendidikan kelas dunia, sistem pertanian Kuba mengutamakan pengembangan dan penggunaan sayuran lokal yang dibudidayakan secara organik. Sebagai hasilnya, penduduk Kuba dapat membeli makanan bergizi dengan harga yang terjangkau, atau mendapatkannya secara gratis di sekolah-sekolah, rumah-rumah sakit dan rumah-rumah jompo. Pemerintah Kuba juga membuat komitmen yang besar terhadap penelitian ilmiah, yang pada akhirnya memberikan manfaat bagi masyarakat.

Selanjutnya, pemerintah membeli sebagian pangan dari petani-petani setempat dan mereka dapat menjual kelebihannya untuk mendapatkan keuntungan, dengan demikian dapat menjamin kemampuan mereka memperoleh penghasilan. Gambar-gambar yang diterbitkan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (UN Food and Agriculture Organization - UNFAO) menunjukkan tingkat kelaparan di Kuba turun dari 8% di tahun 1990 menjadi 3% di tahun 2004. Sistem pertanian Kuba merupakan model berjalan bagi negara-negara yang ingin mengadopsi pertanian organik, pertanian non-intensif daripada mengikuti sistem industri pertanian yang berskala besar. 

Kuba meningkatkan keterlibatannya dalam memberikan bantuan ke luar negeri, khususnya dalam bidang kesehatan. Negara ini terkenal dalam mendidik dokter-dokter dan mengirim mereka ke tempat-tempat yang sangat membutuhkan. Latin American School of Medical Sciences (LASMS) yang didirikan pada tahun 1999, menyediakan beasiswa kedokteran kepada kaum muda Amerika Latin dan Karibia. Kuba berkomitmen untuk menyekolahkan setidaknya 500 orang dokter setiap tahun. Pada tahun 2001, Presiden Castro menawarkan 500 beasiswa tambahan setiap tahun untuk menolong memecahkan persoalan krisis kesehatan di banyak komunitas miskin Afrika-Amerika di Amerika Serikat. Satu-satunya syarat adalah mahasiswa yang kembali dari Amerika Serikat setelah menyelesaikan studi harus melayani komunitas Afrika-Amerika yang membutuhkan. Sekarang, lebih dari 12.000 siswa dari seluruh dunia sedang belajar ilmu pengobatan di Kuba tanpa biaya sepeser pun dan jumlahnya terus meningkat dengan pesat. 

Pada tahun 2004, Kuba mengadakan program operasi mata gratis, Operasi Mukjizat, ke Afrika dan Asia. Tugas yang sangat besar ini adalah yang pertama kalinya di dunia, yang mencakup pelatihan 200.000 profesional di bidang kesehatan selama lebih dari sepuluh tahun dan kemudian mengirimkan mereka untuk menjaga dan memulihkan penglihatan dari sekitar enam juta orang dari Amerika Latin dan Karibia. Baru-baru ini, pada bulan Desember 2005, Castro mengirimkan 100 orang petugas medis ke Botswana, di mana mereka memainkan peranan penting bagi usaha Botswana melawan HIV/AIDS.





[1] Ede Surya Darmawan. Implementasi Sistem Kesehatan: Belajar dari Sistem Kesehatan Kuba
[2] Prajuneka. Tuntutlah Ilmu Sampai ke negeri Kuba. 2008

Aku Ingin Jadi Teroris

Oleh: Istyana Aminuddin

“Kalau besar nanti aku ingin jadi teroris Bu. Aku ingin memberontak pada pemerintah,” kata Dian.  Kalimat itu yang paling membekas di ingatanku ketika berjalan pulang ke posko induk setelah berbincang-bincang dengan keluarga Bu Emi.

Sore ini ku habiskan dengan berkeliling dari rumah ke rumah untuk berbincang-bincang dengan warga Kassi-kassi. Sudah beberapa hari aku disini. Meskipun sore ini sama gerahnya dengan sore-sore yang lain. Tapi ada banyak cerita menarik yang ku dengar di sore ini.

Suasana menyenangkan sekaligus haru sangat terasa walaupun aku baru pertama kali bertemu dengan Bu Emi. Pun dengan anak-anaknya. Keluarga kecil ini selalu terlihat bahagia dan ceria padahal sampai saat ini belum ada kepastian akan tanah yang mereka diami sekarang. Beberapa kali harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain karena kediktatoran pemerintah. Penggusuran tepatnya.

Tidak ada barang-barang yang mencolok ketika memasuki rumah sederhana mereka. Rumah yang hanya terdiri atas dua ruangan itu dihuni enam orang. Hanya ada ruang tamu dan selebihnya menjadi ruang tidur, dapur sekaligus ruang keluarga. Terlihat Beberapa tumpukan barang bekas yang sudah tidak terpakai lagi dengan dinding yang terbuat dari seng. Aku melangkah masuk dengan hati-hati karena lantai kayu yang ku injak sepertinya rapuh.

Ibu Emi memiliki empat orang anak. Tapi aku tertarik dengan Dian, putra ketiganya yang baru berumur 10 tahun. Awal berkenalan dengannya, sudah terkesan bahwa dia anak yang pemalu. Pada awal pembicaraan kami, hanya beberapa kalimat yang dia ucapkan untuk ku. Dia sepertinya tidak terlalu suka dengan kedatanganku yang sangat asing baginya. Saat itu, Dian masih sangat kecil ketika mendapati rumahnya harus roboh dihancurkan oleh alat-alat berat yang biasa digunakan aparat kepolisian untuk menggusur bangunan dan rumah penduduk miskin, keindahan tata kota selalu menjadi alasan untuk membenarkan penggusuran. Dia masih tinggal di Karuisi saat itu. Tanah yang disengketakan sejak tahun 1996 dan baru selesai kasusnya pada tahun 2006. Lokasi Karuisi memang sangat strategis karena berada di tengah kota. Meskipun keputusan pengadilan membuat mereka harus mencari tempat tinggal baru lagi karena sengketa dimenangkan oleh Muis Harmonis T., mafia tanah yang  terkenal se-Indonesia Timur sebagai anak angkat Soeharto yang kaya raya karena profesinya,  menggusur tanah masyarakat.

Terik matahari tetap tidak menyurutkan hasrat petugas untuk meratakan rumah Dian. Rasa takut pasti dirasakan semua orang dalam kondisi seperti ini tak terkecuali Dian. Yang ketika itu baru berumur kurang lebih lima tahun. Dian memeluk kakaknya erat. Dia melihat ayah dan ibunya sedang meghalangi petugas yang ingin merobohkan rumahnya. Satu-satunya harta benda paling berharga milik mereka saat itu. Di depan mata, dia melihat arogansi aparat yang berseragam coklat memukul dan membentak warga yang mencoba melawan. Bahkan dia pun sempat merasakan benda tumpul mendarat di kepalanya karena peristiwa itu.

Kenangan pahit tentang penggusuran terus menghantui hidupnya. Sebelum dia lahir, bahkan sejak dalam kandungan dia sudah merasakan ketidakadilan dan penindasan. Dia tumbuh dan besar dalam keadaan yang terlunta-lunta. Tidur di tenda hanya beralas surat kabar sudah pernah dirasakannya. Intimidasi, teror, kekerasan mewarnai masa kecilnya sejak tahun 2000 sampai 2006.

Setelah mendapat ganti rugi sebanyak lima juta rupiah, tahun 2006, keluarga mereka pindah ke Kassi-kassi. Suasana dan tempat baru menjadi angin segar buat Dian. Tanah berukuran 4 x 6 meter dibeli bapaknya dari makelar tanah. Kata makelar itu, tanah di Kassi-kassi tidak sedang dalam masalah. Namun, baru dua bulan berada di sana, sudah terdengar kabar bahwa akan ada pengusuran. Lagi-lagi pemerintah tidak pernah berpihak pada rakyat miskin. Pada keluarga Dian terutama. Padahal tanah itu sudah dibeli seharga 15 juta rupiah. Harga yang tidak sedikit bagi ukuran keuangan keluarga mereka. Apalagi sudah pernah digusur. Keluar dari mulut buaya, masuk ke mulut harimau. Kalimat yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi keluarga Dian saat ini.

Setelah peristiwa di Karuisi, sikap dian berubah drastis. Dia berubah murung dan sangat penakut. “sejak saat itu, Dian menjadi anak penakut dan tidak mau bergaul,” kata Ibunya. Bahkan hanya mendengar suara gemerisik di atap rumah, akan membangunkannya dari tidur. Dia mengalami trauma mendalam. Pada cita-citanya sekalipun.

Seperti pada umumnya anak laki-laki, kebanyakan bercita-cita menjadi polisi, tentara atau segala profesi yang mengutamakan bentuk fisik. “Aku ingin jadi polisi kalau besar nanti Kak,” katanya. Kemudian dia diam seolah-olah merenungkan sesuatu. “Tapi… tidak deh. Polisi suka menggusur. Aku tidak suka digusur,” katanya lagi sambil memeluk bantal kecilnya yang sudah sangat kusam. Dia lalu bercerita panjang lebar tentang pengalaman dan ketidaksukaannya pada polisi. Kami berbincang cukup lama sampai akhirnya aku menyinggung tentang penggusuran di Karuisi. Masa lalu kelamnya. Raut mukanya tiba-tiba berubah. Aku mulai bertanya hati-hati. Tidak banyak info yang ku dapatkan tentang karuisi darinya. Dia hanya mengatakan lebih senang tinggal di rumahnya yang dulu di Karuisi. Teman-teman dan tempat bergaulnya di sana lebih menyenangkan paparnya. Di sekolahnya yang sekarang juga tidak mengasyikkan menurutnya.

Aku jadi terdiam beberapa saat, lalu ku tanya kembali apa cita-citanya. “Kak, aku ingin jadi  teroris,” katanya dengan ekspresi datar. Aku tersentak mendengar itu. Anak seumuran dia ingin menjadi teroris. Kaget. Benar-benar kaget. Rasa traumanya, ternyata juga berdampak pada keinginan dan cita-citanya. Ingin memberontak pada pemerintah Karena ketidakadilan yang dia rasakan bersama ratusan warga lainnya.  Ini pelajaran yang dia peroleh dari pengalamannya. Pemerintah tidak pernah memberi ruang bagi masyarakat miskin sepertinya. Melawan menjadi satu-satunya cara yang harus dia lakukan untuk keluar dari masalah seperti ini. Beginilah cara pemerintah mendidik rakyatnya. Ini yang dia dapatkan selama bertahun-tahun hidup dalam ketidaksetaraan. Menjadi teroris mungkin menjadi pilihan terbaik menurutnya. Tapi aku salut padanya. Pada Bu Emi. Pada warga Karuisi. Warga Kassi-kassi. Pada semua orang yang selalu membuat pilihan pada hidupnya, tunduk tertindas atau bangkit melawan.
Selamat datang.
Jika Subcomandante pernah mengatakan bahwa adalah kata-kata yang membantu kita menyeberangi jembatan, maka kata-kata pula yang akan membawa kita pada kehidupan yang layak dan lebih manusiawi.
Lalu, saat kata-kata terdistorsi, kehilangan makna sebagai penyambung kebenaran, termanipulasi kuasa modal melalui media, terjarah oleh kebohongan terorganisir dan menindas yang tak berpunya, kata-kata pula yang mampu mengumpulkan perih, mengkonsolidasikan amarah lalu mengabarkan bahwa dunia berputar tak sedang baik-baik saja.
Untukmu yang masih tergetar melihat peluru buta tak bermata, yang marah saat bangku sekolah hanya bisa ditukar dengan emas, yang merintih saat sembako naik, kali ini tidak muluk-muluk.
Tetaplah tantang tirani!