Kamis, 05 Januari 2012

Aku Ingin Jadi Teroris

Oleh: Istyana Aminuddin

“Kalau besar nanti aku ingin jadi teroris Bu. Aku ingin memberontak pada pemerintah,” kata Dian.  Kalimat itu yang paling membekas di ingatanku ketika berjalan pulang ke posko induk setelah berbincang-bincang dengan keluarga Bu Emi.

Sore ini ku habiskan dengan berkeliling dari rumah ke rumah untuk berbincang-bincang dengan warga Kassi-kassi. Sudah beberapa hari aku disini. Meskipun sore ini sama gerahnya dengan sore-sore yang lain. Tapi ada banyak cerita menarik yang ku dengar di sore ini.

Suasana menyenangkan sekaligus haru sangat terasa walaupun aku baru pertama kali bertemu dengan Bu Emi. Pun dengan anak-anaknya. Keluarga kecil ini selalu terlihat bahagia dan ceria padahal sampai saat ini belum ada kepastian akan tanah yang mereka diami sekarang. Beberapa kali harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain karena kediktatoran pemerintah. Penggusuran tepatnya.

Tidak ada barang-barang yang mencolok ketika memasuki rumah sederhana mereka. Rumah yang hanya terdiri atas dua ruangan itu dihuni enam orang. Hanya ada ruang tamu dan selebihnya menjadi ruang tidur, dapur sekaligus ruang keluarga. Terlihat Beberapa tumpukan barang bekas yang sudah tidak terpakai lagi dengan dinding yang terbuat dari seng. Aku melangkah masuk dengan hati-hati karena lantai kayu yang ku injak sepertinya rapuh.

Ibu Emi memiliki empat orang anak. Tapi aku tertarik dengan Dian, putra ketiganya yang baru berumur 10 tahun. Awal berkenalan dengannya, sudah terkesan bahwa dia anak yang pemalu. Pada awal pembicaraan kami, hanya beberapa kalimat yang dia ucapkan untuk ku. Dia sepertinya tidak terlalu suka dengan kedatanganku yang sangat asing baginya. Saat itu, Dian masih sangat kecil ketika mendapati rumahnya harus roboh dihancurkan oleh alat-alat berat yang biasa digunakan aparat kepolisian untuk menggusur bangunan dan rumah penduduk miskin, keindahan tata kota selalu menjadi alasan untuk membenarkan penggusuran. Dia masih tinggal di Karuisi saat itu. Tanah yang disengketakan sejak tahun 1996 dan baru selesai kasusnya pada tahun 2006. Lokasi Karuisi memang sangat strategis karena berada di tengah kota. Meskipun keputusan pengadilan membuat mereka harus mencari tempat tinggal baru lagi karena sengketa dimenangkan oleh Muis Harmonis T., mafia tanah yang  terkenal se-Indonesia Timur sebagai anak angkat Soeharto yang kaya raya karena profesinya,  menggusur tanah masyarakat.

Terik matahari tetap tidak menyurutkan hasrat petugas untuk meratakan rumah Dian. Rasa takut pasti dirasakan semua orang dalam kondisi seperti ini tak terkecuali Dian. Yang ketika itu baru berumur kurang lebih lima tahun. Dian memeluk kakaknya erat. Dia melihat ayah dan ibunya sedang meghalangi petugas yang ingin merobohkan rumahnya. Satu-satunya harta benda paling berharga milik mereka saat itu. Di depan mata, dia melihat arogansi aparat yang berseragam coklat memukul dan membentak warga yang mencoba melawan. Bahkan dia pun sempat merasakan benda tumpul mendarat di kepalanya karena peristiwa itu.

Kenangan pahit tentang penggusuran terus menghantui hidupnya. Sebelum dia lahir, bahkan sejak dalam kandungan dia sudah merasakan ketidakadilan dan penindasan. Dia tumbuh dan besar dalam keadaan yang terlunta-lunta. Tidur di tenda hanya beralas surat kabar sudah pernah dirasakannya. Intimidasi, teror, kekerasan mewarnai masa kecilnya sejak tahun 2000 sampai 2006.

Setelah mendapat ganti rugi sebanyak lima juta rupiah, tahun 2006, keluarga mereka pindah ke Kassi-kassi. Suasana dan tempat baru menjadi angin segar buat Dian. Tanah berukuran 4 x 6 meter dibeli bapaknya dari makelar tanah. Kata makelar itu, tanah di Kassi-kassi tidak sedang dalam masalah. Namun, baru dua bulan berada di sana, sudah terdengar kabar bahwa akan ada pengusuran. Lagi-lagi pemerintah tidak pernah berpihak pada rakyat miskin. Pada keluarga Dian terutama. Padahal tanah itu sudah dibeli seharga 15 juta rupiah. Harga yang tidak sedikit bagi ukuran keuangan keluarga mereka. Apalagi sudah pernah digusur. Keluar dari mulut buaya, masuk ke mulut harimau. Kalimat yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi keluarga Dian saat ini.

Setelah peristiwa di Karuisi, sikap dian berubah drastis. Dia berubah murung dan sangat penakut. “sejak saat itu, Dian menjadi anak penakut dan tidak mau bergaul,” kata Ibunya. Bahkan hanya mendengar suara gemerisik di atap rumah, akan membangunkannya dari tidur. Dia mengalami trauma mendalam. Pada cita-citanya sekalipun.

Seperti pada umumnya anak laki-laki, kebanyakan bercita-cita menjadi polisi, tentara atau segala profesi yang mengutamakan bentuk fisik. “Aku ingin jadi polisi kalau besar nanti Kak,” katanya. Kemudian dia diam seolah-olah merenungkan sesuatu. “Tapi… tidak deh. Polisi suka menggusur. Aku tidak suka digusur,” katanya lagi sambil memeluk bantal kecilnya yang sudah sangat kusam. Dia lalu bercerita panjang lebar tentang pengalaman dan ketidaksukaannya pada polisi. Kami berbincang cukup lama sampai akhirnya aku menyinggung tentang penggusuran di Karuisi. Masa lalu kelamnya. Raut mukanya tiba-tiba berubah. Aku mulai bertanya hati-hati. Tidak banyak info yang ku dapatkan tentang karuisi darinya. Dia hanya mengatakan lebih senang tinggal di rumahnya yang dulu di Karuisi. Teman-teman dan tempat bergaulnya di sana lebih menyenangkan paparnya. Di sekolahnya yang sekarang juga tidak mengasyikkan menurutnya.

Aku jadi terdiam beberapa saat, lalu ku tanya kembali apa cita-citanya. “Kak, aku ingin jadi  teroris,” katanya dengan ekspresi datar. Aku tersentak mendengar itu. Anak seumuran dia ingin menjadi teroris. Kaget. Benar-benar kaget. Rasa traumanya, ternyata juga berdampak pada keinginan dan cita-citanya. Ingin memberontak pada pemerintah Karena ketidakadilan yang dia rasakan bersama ratusan warga lainnya.  Ini pelajaran yang dia peroleh dari pengalamannya. Pemerintah tidak pernah memberi ruang bagi masyarakat miskin sepertinya. Melawan menjadi satu-satunya cara yang harus dia lakukan untuk keluar dari masalah seperti ini. Beginilah cara pemerintah mendidik rakyatnya. Ini yang dia dapatkan selama bertahun-tahun hidup dalam ketidaksetaraan. Menjadi teroris mungkin menjadi pilihan terbaik menurutnya. Tapi aku salut padanya. Pada Bu Emi. Pada warga Karuisi. Warga Kassi-kassi. Pada semua orang yang selalu membuat pilihan pada hidupnya, tunduk tertindas atau bangkit melawan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar